Kamis, 21 Maret 2019

TEORI-TEORI AGAMA



 Teori-Teori Agama


A.     Teori Rasionalistik
Teori ini di terapkan pada kajian agama mulai abad ke-19 secara umum yang di maksudkan dengan teori rasionalistik adalah keyakinan ilmuan bahwa manusia pra sejarah menjelaskan kepercayaan mereka hampir dekat dengan cara ilmiah. Ketika ada budaya dan kepercayaan suku bangsa lain atau zaman lain yang sangat berbeda dengan budaya mereka, mereka memandang cara suku bangsa lain mendapatkan kepercayaan-nya hampir sama dengan cara berpikir ilmiah yang mereka lakukan.
Malefijt menyebutkan nama seperti: E.B.Tylor (1832-1917),Herbert spencer(1820-1903), Andrew Lng(1844-1912), R.R. Marett (1866-1943) dan Sir james George (1854-1941) sebagai ahli antropologi yang punya kecenderungan rasionalistik. (Malafijt  1968; 48-55).
Tylor (1832 – 1917).Mengungkapkan kosep survival dalam studinya yang berarti bahwa kepercayaan dan praktik-praktik yang dilakukan dalam suatu kesusastraan merupakan survival  atau kelanjutan perjuangan eksistensi dari perilaku budaya masalah dalam bentuk perilaku budaya (Cultural habbits) yang sudah kehilangan makna dan tujuan.
Agama adalah konstruksi akal suku bangsa yang bersangkutan. Agama berasal dari kepercayaan kepada jiwa dan ruh (soul and spirit) dalam diri manusia. Kedua konsep ini berbeda. Satu material, satu lagi tidak material atua gaib. Dikaitkan dengan teori survival, menurut Tylor, praktik keagamaan suatu masa, dengan hanya konsep jiwa tidak akan timbul agama. Agama akan timbul karena adanya praktik ritual secara bersama.
Max weber mendefinisikan sosiologi sebagai studi tentang aksi sosial. Sebagai studi aksi sosial, weber banyak bicara mengenai hubungan sosial dan motivasi, yang menurut weber banyak dipengaruhi oleh rasionalitas formal. Rasionalitas formal, meliputi proses berfikir dalam membuat pilihan mengenai alat dan tujuan (Ritzer, 2005). Dalam konteks ini, hubungan sosial berkaitan dengan motivasi dan rasionalitas formal,dikenal dalam 3 sifat hubungan, yaitu:
1.      Hubungan sosial yang bersifat atau didasarkan pada tradisi, yaitu hubungan sosial yang terbangun atas dasar kebiasaan/tradisi di masyarakat.
2.      Hubungan sosial yang bersifat atau didasarkan pada koersif/tekanan. Yaitu hubungan sosial yang terbangun dari rekayasa sosial dari pihak yang memiliki otoritas (kekuasaan) terhadap powerless.
3.      Hubungan sosial yang bersifat atau didasarkan pada rasionalitas (akal/logika).

Menurut Max Weber, tindakan rasional adalah tindakan manusia yang dapat mempengaruhi individu-individu lain dalam masyarakat. Weber membagi tindakan rasional ini kepada empat jenis atau bentuk.
1.      Tindakan rasional instrumental yaitu tindakan yang diarahkan secara rasional untuk mencapai sesuatu tujuan tertentu.
2.      Tindakan rasional nilai yaitu tindakan yang akan ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan atas dasar keyakinan seseorang individu terhadap nilai-nilai estetika, etika atau keagamaan.
3.      Tindakan emosional yaitu segala tindakan seseorang individu yang akan dipengaruhi oleh perasaan dan emosi.
4.      tindakan tradisional yaitu tindakan dimana seseorang akan melakukan suatu tindakan hanya karena mengikuti amalan tradisi atau kebiasaan yang telah berlaku.

Sebagai contoh dari teori rasionalistik ini adalah, seperti yang kita ketahui bahwa teori rasional itu masuk akal, seperti hal nya kita memotong apel memakai pisau itu sangat masuk akal, bukan memotong apel memakai sendok. Jika dalam agama akan berbeda ranah, karena agama tidak rasio. Adanya kepercayaan kepada tanggalan primbon jawa.

B.     Teori Linguistik
Penelitian bahasa untuk mengetahui kaidah bahasa pada manusia dalam beragama, bisa berupa penyampaian wahyu, kajian ilmu dsb.
Linguistik yaitu ilmu yang mempelajari bahasa-bahasa. Sebagai suatu ilmu pengetahuan, ilmu tentang bahasa. Bahwa bahasa-bahasa memegang peranan utama dalam perkembangan kebudayaan manusia, pada hakekatnya merupakan wahana utama untuk meneruskan adat-istiadat, ajaran dan budaya termasuk kepercayaan dari generasi ke generasi, maka antropologi makin bersandar pada ilmu-ilmu bahasa. Ahli-ahli bahasa antropologi sangat tertarik pada sejarah dan struktur bahasa-bahasa yang tidak tertulis.
Kajian terhadap agama secara ilmiah di mulai sesudah kajian terhadap bahasa mulai berkembang. Keduanya punya persamaan sebagai gejala universal dari kehidupan manusia. Dua bersaudara  Jacob Grimm (1775-1863) dan Wilhem Grimm (1787-1859) yang memulai penggabungan kajian mitos dengan bahasa. Di selesaikan dalam kitab Rig-veda yang di perkirakan ditulis dua abad sebelum masehi. Keagamaan itu adalah cerita rakyat modern yang semula adalah mitos yang di tambah,di kurang atau di korup.
Friedrich Max Muller(1823-1900)  melanjutkan kajian agama dengan teori linguistik. Dalam tulisanya tentang metodologi kompratif, ia menyimpulkan bahwa mitos yunani  sebenarnya tidak di pahami oleh orang yunani sendiri,karena mitos itu berasal dari proto-indi eropa. Menurutnya,agama di dasarkan pada kepercayaan pada nyawa manusia, dari membedakan antara orang yang hidup dan yang mati pada ada atau tidak adanya nyawa (soul and mind) kemudian muller menyaimpulkan bahwa hampir semua legenda dan cerita rakyat,bahkan sampai ke peringatan hari natal dan tahun baru berasaldari mitos (solar myth).(Malefijt 1968;44-46)
Teori linguistik ini mempelajari timbulnya bahasa dengan bagaimana terjadinya variasi dalam bahasa-bahasa selama jangka waktu berabad-abad. Dari ilmu-ilmu bahasa dikenal sebagai ilmu bahasa perbandingan atau ilmu bahasa sejarah. Bidang ilmu bahasa ini pada umumnya disebut ilmu bahasa deskriptif, secara lebih terperinci lagi disebut sebagai ilmu mengenal konstruksi bahasa disebut ilmu bahasa struktural, sedangkan ilmu  yang mempelajari bagaimana bahasa dipergunakan dalam logat sehari-hari disebut sosiolinguistik atau etnolinguistik.
Contoh dalam toeri linguistik ini dalam bahasa yang menyalurkan kedalam budaya agama, seperti cerita rakyat malin kundang, yang dari zaman dahulu sudah banyak dibicarakan dari mulut ke mulut, padahal belum tau kebenarannya. Dan begitu juga dengan khutbah kalau kita posisikan dengan pendekatan bisa menjadi kebudayaan. Dan juga adanya kata “pamali” sebagai unsur larangan yang memepengaruhi alam pikiran mereka, sehingga mereka takut untuk melakukannya.



C.     Teori Fenomenologis
Fenomenologi adalah seperangkat konsep yang berhubungan satu sama lain secara logis membentuk sebuah kerangka pemikiran yang berfungsi untuk memahami, menafsirkan dan menjelaskan kenyataan atau masalah yang dihadapi.
Fenomen berarti “sebagai yang di maksudkan atau diturunkan sendiri, dengan demikian, teori fenomenologis adalah kajian teradap sesuatu menurut yang dikaji. Dalam halini masyarakat yang menjadi objek penelitian dengan menggunakan pendekatan fenomenologis berarti berusaha memahami simbol,kepercayaan,atau ritual menurut yang mereka pahami.Rudolf Otto(1869-1937).
Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu gejala atau ilmu tentang gejala-gejala. Fenomenologi memberi tekanan pada keperluan melukiskan gejala-gejala tanpa prasangka. Istilah fenomenologi dipakai untuk pertama kali oleh J.H. Lambert (1728-1777), yang menyebut fenomenologi sebagai sebuah penyelidikan kritis mengenai hubungan antara sesuatu yang lepas dari pertimbangan dan sesuatu sebagai akibat pengalaman kita. jadi istilah fenomenologi menggarisbawahi masalah yang khas manusia, yaitu masalah pengalaman.Meski demikian, beberapa ahli memberikan batasan terhadap ilmu ini sesuai dengan kecenderungan masing, antara lain:
·         Joachim Wach mendefinisikan Fenomenologi Agama sebagai “studi yang sistematis, jadi bukan historis, mengenai gejala-gejala agama, seperti doa, imamat, sekte, dan lain-lain”.
·         Menurut Raffaele Pettazzoni, Fenomenologi Agama adalah ilmu yang terutama bertugas menemukan beberapa struktur di dalam kebanyakan gejala keagamaan.
·         W.B. Kristensen mendefinisikan Fenomenologi Agama sebagai “ilmu yang memakai pandangan yang membandingkan data-data keagamaan, supaya mendapat dukungan baru untuk interpretasi mereka”
·         Geo Widengren mendefinisikan Fenomenologi Agama sebagai ilmu yang mengklasifikan semua gejala yang berbeda dalam agama dan ilmu yang melukiskan agama dalam manifestasi yang berbeda dalam kehidupan.
·         Ake Hultkrantz meringkaskan definisi-definisi tersebut sebagai berikut: Fenomenologi Agama adalah penelitian yang sistematis mengenai bentuk-bentuk agama, yaitu bagian dari penelitian keagamaan yang mengklasifikan dan mengkaji secara sistematis konsep-konsep keagamaan, upacara-upacara keagamaan, tradisi-tradisi mite dari segi pandangan yang morfologis dan tipologis.

Tujuan fenomenologi agama adalah mengkaji dan kemudian mengerti pola atau struktur agama atau menemukan esensi agama di balik manifestasinya yang beragam atau memahami sifat-sifat yang unik pada fenomena keagamaan serta untuk memahami peranan agama dalam sejarah dan budaya manusia.
Pendekatan fenomenologi dalam studi agama muncul sebagai reaksi terhadap beberapa pendekatan sebelumnya, yaitu:
v  pertama pendekatan teologi yang normatif (atau sebut saja: teologis-normatif). Dalam mengkaji tradisi agama, pendekatan ini digunakan untuk menghasilkan dan menyumbangkan pemahaman yang lebih baik mengenai dunia agama. Sehingga menjadikan agama tertentu (terutama agamanya sendiri) sebagai agama yang benar, sementara agama lain salah.
v  Kedua pendekatan reduksionis. Pendekatan ini melihat agama lebih sebagai fakta-fakta intelektual, emosional, psikologis dan sosiologis. Di sini agama diselidiki melalui beberapa disiplin di luar ilmu agama (teologi). Ilmu-ilmu ini dalam melihat agama (termasuk persoalan ketuhanan) menghasilkan beberapa kesimpulan, misalnya ia sebagai pemerasan  ekonomis (Marx), frustasi jiwa manusia (Feuerbach), suatu fase manusia dalam keadaan keterbelakangan (Comte), dan lain-lain. Ketika mencari asal-usul agama, ahli sosiologi agama memulai kerjanya dalam masyarakat yang paling “primitif”. Melalui penelitian terhadap masyarakat yang paling “awal/primitif” itu diharapkan diperoleh pemahaman mengenai proses perkembangan agama sepanjang sejarah.

Fenomenologi Agama merupakan kajian descriptive oriented.Fenomenologi Agama tidak berusaha untuk mengevaluasi dan memberi penilaian terhadap fenomena keagamaan, di mana hal ini merupakan domain filsafat agama.
Fenomena keagamaan yang dimaksud meliputi ritual, simbol-simbol agama, doa, upacara, teologi (baik tertulis atau lisan), orang suci, seni, kepercayaan, dan sejumlah pelaksanaan keagamaan lainnya, baik yang dilakukan secara bersama-sama maupun individu, publik atau privat.
Pendekatan fenomenologi merupakan usaha untuk menggambarkan fenomena yang tengah dipelajari se-akurat mungkin, tidak hanya mencakup peristiwa-peristiwa yang terjadi, tetapi juga motif di belakang peristiwa-peristiwa tersebut.
Pendekatan fenomenologi tidak diorientasikan kepada pemecahan persoalan  (problem solving), tetapi kepada deskripsi empatik. Pendekatan fenomenologi berusaha menggambarkan fenomena dari perspektif pelaku (practioner), yang di dalam disiplin antrpologi dikenal dengan insider.
Fenomenologi Agama memiliki corak comparative, meski dalam pengertian yang terbatas.Penekanan Fenomenologi Agama ada pada data, tetapi semua data digunakan untuk menemukan makna (signification). Makna ditemukan dengan baik pada data dengan menggunakan metode komparatif.
Fenomenologi Agama dalam mengambarkan praktek-praktek keagamaan, berusaha melintasi tradisi agama yang berbeda-beda, sehingga menghindari kesimpulan berurutan; dari yang terbaik dan yang terburuk, dalam bentuk keunggulan (superiority) atau kerendahan (inferiority).
Tujuan akhir Fenomenologi Agama adalah memahami (understanding) struktur dan makna esensial dari pengalaman keagamaan (prinsip eidetic vision).
Kerja Fenomenologi Agama dimulai dengan melakukan pengamatan sosial, kemudian data-data sosiologis itu digabungkannya dengan ide-ide keagamaan. Dengan begitu fenomenologi agama hendak mememukanlogika interndari agama sebagai fenomena universal di dunia ini. Atau dengan kata lain fenomenologi agama berusaha mencari hakikat atau essensi dari apa yang ada di balik segala macam bentuk manifestasi agama dalam kehidupan manusia di muka bumi. Fenomena keagamaan dilihat sebagai gejala historis-empiris yang bersifat partikular, namun pada saat yang sama secara fenomenologis ia mempunyai pola umum (general pattern) yang bisa dipahami secara intuitif dan rasional oleh umat manusia di manapun mereka berada.
Fenomenologi Agama menggunakan “perangkat” rohani manusia untuk melakukan transendensi, yang biasanya disebut “kesadaran-diri”, intuisi dan semacamnya.
“perangkat” rokhani manusia ini adalah suatu hal yang sebenarnya tidak dikenal dalam tradisi ilmiah pada umumnya.
Keunikan Fenomenologi Agama adalah menggunakan perangkat yang selama ini diklaim sebagai objektivitas, tetapi juga intuisi sekaligus.
  


D.     Teori yang berorientasi pada upacara religi.
            Robertson Smit (186-1894),seorang ahli teologi, sastra dan ilmu pasti mengingatkan bahwa di samping sistem kepercayaan dan doktrin, agama mempunyai sistem upacara keagamaan. Upacara itu berguna untuk mengintensitifkan solidaritas sosial. Upacara tersebut selain dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk berbakti kepada Tuhan dan mendekatkan diri kapada-Nya. Tetapi banyak pula yang melakukannya sekedar kewajiban sosial.
M.T.Preusz (1869-1938). Seorang etnografer jerman yang ahli tentang suku Indian di meksiko, berpendapat bahwa wujud religi tertua merupakan tindakan-tindakan manusia untuk mewujudkan keperluan hidupnya yang tidak dapat di capai dengan akal dan kemampuan biasa. Dia menegaskan bahwa pusat dari tiap sistem religi adalah ritus dan upacara. Dengan demikian, tindakan itu bersifat religius-magis, penyembahan dan usaha magis untuk membujuk dewa atau Tuhan yang di sembah. Kemudianpreusz menambahkan bahwa upacara keagaman yang paling penting adalah ritus kematian.
Ahli antrupologi prancis,R. Hetz juga berpendapat bahwa, upacara kematian selalu dilakukan manusia dalam rangka adat istiadat dan struktur sosial. Menurutnya juga ada persamaan antara upacara kematian dengan upacara  kelahiran serta upacara pernikahan,yaitu sama sama upacara peralihan. Yang di namakan dengan rites de passage. Dalam upacara peralihan itu terdapat upacara bagian perpisahan,peralihan dan bagian integrasi kembali.
Contoh dari teori ini adalah seperti memberikan sesaji pada upacara, dan manusia ikut memakan bagian tertentu dari apa yang telah dipersembahkan dalam upacara itu, Jadi ini sebagai orientasi upacara religi.
Manusia adalah makhluk religius, Mircea Eliade (dalam King Richard, 2001:27) menyebutnya homo religious, sehingga manusia memiliki kesadaran bahwa hidupnya merupakan karunia Tuhan. Oleh karena itu, manusia memahami bahwa hidup itu harus dijaga dan dipelihara agar tetap kuat, sehat, dan selamat.
Teori W. Robertson Smith (1846-1894) tentang upacara religi. Dalam bukunya yang berjudul Lectures on Religion of the Semites (1989) Robertson Smith mengemukakan tiga gagasan mengenai asas-asas dari religi dan agama pada umunya.
v  Gagasan yang pertama mengenai soal bahwa di samping sistem keyakinan dan doktrin, sistem upacara juga merupakan suatu perwujudan dari religi atau agama yang memerlukan sutudi dan analisis yang khusus.
v  Gagasan yang kedua adalah bahwa upacara religi atau agama yang biasanya dilaksanakan oleh banyak warga masyarakat pemeluk religi atau agama yang bersangkutan bersama-sama. Artinya, di samping sebagai kegiatan keagamaan tidak sedikit dari masyarakat yang melaksanakan upacara religi atau agama menganggap melakukan upacara itu sebagai suatu kewajiban sosial.
v  Gagasan yang ketiga adalah teorinya mengenai fungsi upacara bersaji. Dikatakan pada pokoknya upacara seperti itu, dimana manusia menyajikan sebagian dari seekor binatang, terutama darahnya kepada dewa. Dalam hal itu dewa atau para dewa dipandang juga sebagai warga komunitas, walaupun sebagai warga istimewa.

Rudolf Otto menekankan sikap kagum terpesona  dari penganut agama terhadap zat yang goib (mysterium), maha dahsyat,maha baik,maha adil, maha bijak sana. (tremendum) dan kramat (sacer). Karena itu,manusia tertarik untuk bersatu dengan zat tersebut. Teori Otto tampak cocok dengan agama besar dunia dan tidak cocok dengan agama primitive. Otto berpendapat bahwakepercayaan masyarakat primitive belumlah agama. Dengan demikian,Koentjaraningrat menilainya lemah dalam ilmu antropologi.(1987: 65-66).

E.     Teori Transeden dan Imanen
Relasi Tuhan dengan manusia maupun alam merupakan fenomena baru masyarakat modern dalam memahami Tuhan sehingga pendekatan epistemologis menjadi sebuah keharusan. Tuhan dipahami dalam perspektif antroposentris dengan titik tekan pada relasi antara Tuhan dengan manusia dan alam. Relasi antara Tuhan dengan manusia menimbulkan pemikiran-pemikiran yang secara filosofis cenderung imanen, pada satu sisi, dan transenden, pada sisi yang lain, bahkan menimbulkan pemikiran yang menganggap bahwa Tuhan itu imanen sekaligus transenden.
Transenden yaitu segala sesuatu yang di luar kesanggupan manusia, luar biasa. Sedangkan imanen yaitu berada dalam kesadaran atau dalam akal budi
Imanensi maupun transendensi merupakan paradigma ontologism metafisis di kalangan filosof maupun teolog dalam membahas relasi antara manusia dengan Tuhan. Di sinilah terdapat benang merah relasi manusia dan Tuhan dengan pendekatan fenomenologis yang dikenal dengan istilah intensionalitas. Istilah ini merujuk bahwa manusia mempunyai keterarahan dengan yang lain, termasuk Tuhan. Keterarahan manusia kepada Tuhan merupakan suatu keniscayaan. Keterarahan ini semakin jelas dalam pandangan Martin Buber sebagai wujud keterarahan aku dengan Tuhan. Martin Buber menganalogikan keterarahan manusia pada Tuhan dengan keterarahan pada benda, yang disebut dengan istilah relasi Aku-Itu dan Aku-Engkau. Menurut Martin Buber relasi Aku-Itu dan Aku-Engkau merupakan cara untuk mewujudkan kesadaran Aku. Artinya, bahwa kesadaran Aku bukan tunggal yang hanya ditentukan oleh subjek dirinya, tetapi ditentukan oleh subjek lain (Aku lain) yang dinamakan engkau. Jadi Engkau merupakan suatu dimensi baru meng-ada-kan Aku dalam hubungannya dengan Aku lain. Karenanya, hanya dengan pertemuan personal Aku-Engkau, Aku mengalami kesadaran dan kehadiran yang nyata. Kehadiran Aku dan Engkau merupakan sisi dari proses menjadi ADA. Berangkat dari hal ini, Martin Buber memandang manusia, yaitu Aku selalu dalam relasi dialogis dengan benda-benda maupun dengan sesame dan Tuhan. Relasi dialogis ini merupakan suatu keharusan dalam perjumpaan dengan Engkau. Perjumpaan ini menyebabkan Aku menjadi Ada karena Engkau, sebagaimana ucapannya, “Aku membutuhkan Engkau untuk menjadi Ada, Aku Ada, karena Aku berkata Engkau.
            Pada akhirnya kesadaran yang terdapat pada Aku sebagai inti kepribadian manusia merupakan aktivitas jiwa. Sehingga, kesadaran atau suara hati merupakan aspek etis yang menempatkan roh sebagai bentuk yang paling tinggi dari semua itu dan dianggap sebagai jendela jiwa yang terarah pada Allah Karena itu, dibalik kesadaran manusia terdapat sesuatu yang turut beraktivitas dalam kehidupan sehingga membawa manusia pada yang mutlak, yaitu Roh. Keterarahan pada yang Mutlak itu merupakan sesuatu yang diberi untuk manusia karena Allah merupakan ide mutlak manusia, sebagaimana teori Plato dan Descrates. Relasi keduanya yang melahirkan konsep imanensi dan transendensi ini dalam perkembangan berikutnya menimbulkan faham-faham ketuhanan yang menjadi perdebatan di antara paham-paham tersebut. Tuhan dianggap sebagai imanen sekaligus transenden bagi penganut teisme; Tuhan dianggap sebagai transenden terhadap alam dan manusia bagi kaum deisme. Tuhan dianggap sebagai yang imanen bagi kaum panteisme. Di samping itu, ada juga yang pesimis bahwa akal manusia bisa menjangkau Tuhan sebagaimana kaum agnostisisme.
Relasi Tuhan dengan manusia dan alam yang dikonsepsikan para teolog yang cenderung spiritualis-monistik beranggapan bahwa peleburan dalam relasi tersebut akan melenyapkan eksistensi manusia dan alam sebagaimana menjadi pegangan kaum panteisme. Sementara itu, dikalangan masyarakat modern yang rasional melalui pendekatan epistemologis beranggapan bahwa peleburan dalam relasi tersebut tidaklah menghilangkan eksistensi manusia dan alam, tetapi justru semakin mengeksiskan manusia. Ini adalah anggapan kaum panenteisme.
Persepsi panenteisme mengenai Tuhan ini menjadi fenomena baru masyarakat modern karena paham ini tidak menafikan kemampuan dan kebebasan manusia. Fenomena ini berangkat dari pemahaman epistemologis filosofis tentang eksistensi Tuhan relevansinya dengan  pengetahuan ilmiah sehingga paham ini masih menghargai pengetahuan ilmiah dalam memahami Tuhan. Pengetahuan ilmiah menjadi perangkat metodologis dalam memahami eksistensi Tuhan. Tuhan tidak hanya dipandang dalam perspektif teologis saja. Eksistensi Tuhan menjadi perdebatan yang panjang antara panteisme dengan panenteisme mengenai relasi yang disertai dengan peleburan manusia dengan Tuhan.

F.      Teori Asal Usul Agama
1.      Teori Jiwa
“Teori Jiwa”, pada mulanya berasal dari seorang sarjana antropologi Inggris, E.B.Tylor, dan diajukan dalam kitabnya yang terkenal berjudul Primitive Cultures (1873). Menurut Tylor, asal mula agama adalah kesadaran manusia akan faham jiwa. Kesadaran akan faham itu disebabkan karena dua hal, ialah :
a)      Perbedaan yang tampak kepada manusia antara hal-hal yang hidup dan hal-hal yang mati. Suatu makhluk pada suatu saat bergerak gerak, artinya hidup; tetapi tak lama kemudian makhluk tadi tak bergerak lagi, artinya mati. Demikian manusia lambat laun mulai sadar bahwa gerak dalam alam itu, atau hidup itu, disebabkan oleh suatu hal yang ada di samping tubuh-jasmani dan kekuatan itulah yang disebut jiwa.
b)      Peristiwa mimpi. Dalam mimpinya manusia melihat dirinya di tempat-tempat lain daripada tempat tidurnya. Demikian manusia mulai membedakan antara tubuh jasmaninya yang ada di tempat tidur, dan suatu bagian lain dari dirinya yang pergi ke lain tempat. Bagian lain itulah yang disebut jiwa.

Sifat abstrak dari jiwa tadi menimbulkan keyakinan di antara manusia bahwa jiwa dapat hidup langsung, lepas dari tubuh jasmani. Pada waktu hidup, jiwa masih tersangkut kepada tubuh jasmani, dan hanya dapat meninggalkan tubuh waktu manusia tidur dan waktu manusia jatuh pingsan. Karena pada suatu saat serupa itu kekuatan hidup pergi melayang, maka tubuh berada di dalam keadaan yang lemah. Tetapi kata Tylor, walaupun melayang, hubungan jiwa dengan jasmani pada saat-saat seperti tidur atau pingsan, tetap ada. Hanya pada waktu seorang makhluk manusia mati, jiwa melayang terlepas, dan terputuslah hubungan dengan tubuh jasmani untuk selama-lamanya. Hal itu tampak dannyata, kalau tubuh jasmani sudah hancur berubah debu di dalam tanah atau hilang berganti abu di dalam api upacara pembakaran mayat; maka jiwa yang telah merdeka terlepas dari jasmaninya itu dapat berbuat semau-maunya. Alam semesta penuh dengan jiwa-jiwa merdeka itu, yang oleh Tylor tidak disebut soul atau jiwa lagi, tetapi disebut spirit atau mahluk halus. Demikian pikiran manusia telah mentransformasikan kesadarannya akan adanya jiwa menjadi kepercayaan kepada mahluk-mahluk halus.
v  Pada tingkat tertua di dalam evolusi religinya manusia percaya bahwa mahluk-mahluk halus itulah yang menempati alam sekeliling tempat tinggal manusia. Makhluk-makhluk halus tadi, yang tinggal dekat sekeliling tempat tinggal manusia, yang bertubuh halus sehingga tidak dapat tertangkap panca indera manusia, yang mampu berbuat hal-hal yang tak dapat diperbuat manusia, mendapat suatu tempat yang amat penting di dalam kehidupan manusia sehingga menjadi obyek daripada penghormatan dan penyembahannya, dengan berbagai upacara berupa doa, sajian, atau korban. Agama serupa itulah yang disebut oleh Tylor animisme.
v  Pada tingkat kedua di dalam evolusi agama, manusia percaya bahwa gerak alam hidup itu juga disebabkan oleh adanya jiwa yang ada di belakang peristiwa dan gejala alam itu. Sungai-sungai yang mengalir dan terjun dari gunung ke laut, gunung yang meletus, gempa bumi yang merusak, angin taufan yang menderu, jalannya matahari di angkasa, tumbuhnya tumbuh-tumbuhan dan sebagainya, semuanya disebabkan oleh jiwa alam. Kemudian jiwa alam tadi itu dipersonifikasikan, dianggap oleh manusia seperti makhluk-makhluk dengan suatu pribadi, dengan kemauan dan pikiran. Makhluk-makhluk halus yang ada di belakang gerak alam serupa itu disebut dewa-dewa alam.
v  Pada tingkat ketiga di dalam evolusi religi, bersama-sama dengan timbulnya susunan kenegaraan di dalam masyarakat manusia, timbul pula kepercayaan bahwa alam dewa-dewa itu juga hidup di dalam suatu susunan kenegaraan, serupa dengan di dalam dunia makhluk manusia. Demikian ada pula suatu susunan pangkat dewa-dewa mulai dari raja dewa sebagai yang tertinggi, sampai pada dewa-dewa yang terendah. Suatu susunan serupa itu lambat laun akan menimbulkan suatu kesadaran bahwa semua dewa itu pada hakekatnya hanya merupakan penjelmaan saja dari satu dewa yang tertinggi itu. Akibat  dari kepercayaan itu adalah berkembangnya kepercayaan kepada satu Tuhan yang Esa, dan timbulnya agama-agama monotheisme.

2.      Teori Batas Akal
Teori Batas Akal”, berasal dari sarjana besar J.G. Frazer, dan diuraikan olehnya dalam jilid I dari bukunya yang terdiri dari 12 jilid berjudul The Golden Bough (1890). Menurut Frazer, manusia memecahkan soal-soal hidupnya dengan akal dan sistem pengetahuannya; tetapi akal dan sistem pengetahuan itu ada batasnya. Makin maju kebudayaan manusia, makin luas batas akal itu; tetapi dalam banyak kebudayaan, batas akal manusia masih amat sempit.  . Magic menurut Frazer adalah segala perbuatan manusia (termasuk abstraksi-abstraksi dari perbuatan) untuk mencapai suatu maksud melalui kekuatan-kekuatan yang ada dalam alam, serta seluruh kompleks anggapan yang ada di belakangnya. Pada mulanya kata Frazer, manusia hanya mempergunakan ilmu gaib untuk memecahkan soal hidupnya yang ada di luar batas kemampuan dan pengetahuan akalnya.
Agama waktu itu belum ada dalam kebudayaan manusia. Lambat laun terbukti bahwa banyak dari perbuatan magicnya itu tidak ada hasilnya juga, maka mulailah ia percaya bahwa alam itu didiami oleh mahluk-mahluk halus yang lebih berkuasa daripadanya, maka mulailah ia mencari hubungan dengan makhluk-makhluk halus yang mendiami alam itu. Demikianlah timbul agama.
Menurut Frazer memang ada suatu perbedaan yang besar di antara magic dan religion. Magic adalah segala sistem perbuatan dan sikap manusia untuk mencapai suatu maksud dengan menguasai dan mempergunakan kekuatan dan hukum-hukum gaib yang ada di dalam alam. Sebaliknya, religion adalah segala sistem perbuatan manusia untuk mencapai suatu maksud dengan cara menyandarkan diri kepada kemauan dan kekuasaan makhluk-makhluk halus seperti ruh, dewa dsb., yang menempati alam. Kecuali menguraikan pendiriannya tentang dasar-dasar religi, Frazer juga membuat dalam karangannya The Golden Bough tersebut, suatu klarifikasi daripada segala macam perbuatan ilmu gaib kepercayaan dalam beberapa tipe ilmu gaib.

3.      Teori Krisis dalam Hidup Individu
Pandangan ini berasal antara lain dari tokoh-tokoh seperti M. Crawley dalam bukunya Tree of Life (1905), dan diuraikan secara luas oleh A. Van Gennep dalam bukunya yang terkenal, Rites de Passages (1909). Menurut mereka tersebut, dalam jangka waktu hidupnya  manusia mengalami banyak krisis yang menjadi obyek perhatiannya, dan yang sering sangat menakutinya. Betapapun bahagianya hidup orang, ia selalu harus ingat akan kemungkinan-kemungkinan timbulnya krisis dalam hidupnya. Krisis-krisis itu yang terutama berupa bencana-bencana sakit dan maut, tak dapat dikuasainya dengan segala kepandaian, kekuasaan, atau kekayaan harta benda yang mungkin dimilikinya. Dalam jangka waktu hidup manusia, ada berbagai masa di mana kemungkinan adanya sakit dan maut itu besar sekali, yaitu misalnya pada masa kanak-kanak, masa peralihan dari usia muda ke dewasa, masa hamil, masa kelahiran, dan akhirnya maut.
Dalam hal menghadapi masa krisis serupa itu manusia butuh melakukan perbuatan untuk memperteguh imannya dan menguatkan dirinya. Perbuatan-perbuatan serupa itu, yang berupa upacara-upacara pada masa-masa krisis tadi itulah yang merupakan pangkal dari agama dan bentuk-bentuk agama yang tertua

4.      Teori Kekuatan Luar Biasa
Pendirian ini, yang untuk mudahnya akan kita sebut “Teori Biasa”, terutama diajukan oleh sarjana antropologi kebangsaan Inggris, R.R. Marett dalam bukunya The Threshold of Religion (1909). Dia mulai menguraikan teorinya dengan suatu kecaman terhadap anggapan-anggapan Tylor mengenai timbulnya kesadaran manusia terhadap jiwa. Menurut Marett kesadaran tersebut adalah hal yang bersifat terlampau kompleks bagi pikiran makhluk manusia yang baru ada pada tingkat-tingkat permulaan dari kehidupannya di muka bumi ini. Sebagai lanjutan dari kecamannya terhadap teori animisme Tylor itu, maka Marett mengajukan sebuah anggapan baru. Katanya, pangkal dari segala kelakuan keagamaan ditimbulkan karena suatu perasaan rendah terhadap gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa yang dianggap sebagai biasa di dalam kehidupan manusia. Alam tempat gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa itu berasal, dan yang dianggap oleh manusia dahulu sebagai tempat adanya kekuatan-kekuatan yang melebihi kekuatan-kekuatan yang telah dikenal manusia di dalam alam sekelilingnya, disebut Supernatural. Gejala-gejala, hal-hal, dan peristiwa-peristiwa yang luar biasa itu dianggap akibat dari suatu kekuatan supernatural, atau kekuatan luar biasa, atau kekuatan sakti.
Adapun kepercayaan kepada suatu kekuatan sakti yang ada dalam gejala-gejala, hal-hal dan peristiwa-peristiwa yang luar biasa tadi, dianggap oleh Marett suatu kepercayaan yang ada pada makhluk manusia sebelum ia percaya kepada makhluk halus dan ruh; dengan kata lain, sebelum ada kepercayaan animisme. Itulah sebabnya bentuk agama yang diuraikan Marett itu sering disebut pra-animisme.

5.      Teori Sentimen Kemasyarakatan
“Teori Sentimen Kemasyarakatan”, berasal dari seorang sarjana ilmu filsafat dan sosiologi bangsa Perancis bernama E. Durkheim, dan diuraikan olehnya dalam bukunya Les Formes Elementaires de la Vie Religieuse (1912). Durkheim yang juga menjadi amat terkenal dalamkalangan ilmu antropologi budaya, pada pangkalnya mempunyai suatucelaan terhadap Tylor, serupa dengan celaan Marett tersebut di atas. Beliauberanggapanbahwaalampikiranmanusiapadamasapermulaanperkembangan kebudayaannya itu belum dapat menyadari suatu fahamabstrak “jiwa”, sebagai suatu substansi yang berbeda dari jasmani.Kemudian Durkheim juga berpendirian bahwa manusia pada masa itubelum dapat menyadari faham abstrak yang lain seperti perubahan darijiwa menjadi ruh apabila jiwa itu telah terlepas dari jasmani yang mati.Celaan terhadap teori animisme Tylor itu termaktub dalam permulaanbuku Les Formes Elementaires de la Vie Religieuse, tempat beliaumengumumkan suatu teori yang baru tentang dasar-dasar agama yangsama sekali berbeda dengan teori-teori yang pernah dikembangkan olehpara sarjana sebelumnya. Teori itu berpusat kepada beberapa pengertiandasar, ialah :
a)      Makhluk manusia pada waktu ia pertama kali timbul di muka bumi, mengembangkan aktivitas religi itu bukan karena ia mempunyai bayangan-bayangan abstrak tentang jiwa atau roh dalam alam pikirannya, yaitu suatu kekuatan yang menyebabkan hidup dan gerak di dalam alam, melainkan karena suatu getaran jiwa, suatu emosi keagamaan, yang timbul di dalam alam jiwa manusia dahulu, karena pengaruh suatu rasa sentiment kemasyarakatan.
b)      Sentimen kemasyarakatan itu dalam batin manusia dahulu berupa suatu kompleks perasaan yang mengandung rasa terikat, rasa bakti, rasa cinta dan sebagainya terhadap masyarakatnya sendiri, yang merupakan seluruh alam dunia di mana ia hidup.
c)      Sentimen kemasyarakatan yang menyebabkan timbulnya emosi keagamaan, yang sebaliknya merupakan pangkal daripada segala kelakuan keagamaan manusia itu, tentu tidak selalu berkobar-kobar dalam alam batinnya. Apabila tidak dipelihara, maka sentimen kemasyarakatan itu menjadi lemah dan latent, sehingga perlu dikobarkan kembali. Salah satu cara untuk mengobarkan kembali sentimen kemasyarakatan adalah dengan mengadakan suatu kontraksi masyarakat artinya dengan mengumpulkan seluruh masyarakat dalam pertemuan-pertemuan raksasa.
d)      Emosi keagamaan yang timbul karena rasa sentiment kemasyarakatan, membutuhkan suatu obyek tujuan. Sifat apakah yang menyebabkan sesuatu hal itu menjadi obyek daripada emosi keagamaan bukan sifat luar biasanya, bukan pula sifat anehnya, bukan sifat megahnya, bukan sifat ajaibnya, melainkan tekanan anggapan umum dalam masyarakat. Obyek itu ada karena salah satu peristiwa kebetulan dalam sejarah kehidupan sesuatu masyarakat di masa lampau menarik perhatian banyak orang di dalam masyarakat. Obyek yang menjadi tujuan emosi keagamaan itu juga mempunyai obyek yang bersifat keramat, bersifat sakral, berlawanan dengan obyek lain yang tidak mendapat nilai keagamaan (ritual value) itu, ialah obyek yang tak-keramat, yang profane.
e)      Obyek keramat sebenarnya tidak lain daripada suatu lambang masyarakat. Pada suku-suku bangsa asli benua Australia misalnya, obyek keramat, pusat tujuan daripada sentimen-sentimen kemasyarakatan, sering berupa sejenis binatang, tumbuh-tumbuhan, tetapi sering juga obyek keramat itu berupa benda. Oleh para sarjana, obyek keramat itu disebut totem. Totem itu (jenis binatang atau obyek lain) mengonkretkan prinsip totem yang ada di belakangnya, dan prinsip totem itu adalah suatu kelompok tertentu di dalam masyarakat, berupa clan atau lain.

Pendirian-pendirian tersebut pertama di atas, ialah emosi keagamaan dan sentimen kemasyarakatan, adalah menurut Durkheim, pengertian-pengertian dasar yang merupakan inti atau essence daripada tiap religi, sedangkan ketiga pengertian lainnya ialah kontraksi masyarakat, kesadaran akan obyek keramat berlawanan dengan obyek tak-keramat, dan totem sebagai lambang masyarakat, bermaksud memelihara kehidupan daripada inti. Kontraksi masyarakat, obyek keramat dan totem akan menjelmakan
(a) upacara,
(b) kepercayaan dan
(c) mitologi.

Ketiga unsur tersebut terakhir ini menentukan bentuk lahir daripada sesuatu religi di dalam sesuatu masyarakat yang tertentu.
Susunan tiap masyarakat dari beribu-ribu suku bangsa di muka bumi yang berbeda-beda ini telah menentukan adanya beribu-ribu bentuk religi yang perbedaan-perbedaannya tampak lahir pada upacara-upacara, kepercayaan dan mitologinya.

6.      Teori Wahyu Tuhan
“Teori Firman Tuhan”, pada mulanya berasal dari seorang antropolog Austria bernama W. Schmidt. Sebelum Schmidt sebenarnya ada tokoh lain yang pernah mengajukan juga pendirian tersebut. Dia adalah seorang ahli kesusasteraan bangsa Inggris bernama A. Lang. Sebagai ahli kesusasteraan, Lang telah banyak membaca tentang kesusasteraan rakyat dari banyak suku bangsa di dunia. Di dalam dongeng-dongeng itu, Lang sering mendapatkan adanya seorang tokoh dewa yang oleh suku-suku bangsa bersangkutan dianggap dewa tertinggi, pencipta seluruh alam semesta serta isinya, dan penjaga ketertiban alam dan kesusilaan. Kepercayaan kepada seorang tokoh dewa serupa itu menurut Lang terutama tampak pada suku-suku bangsa yang amat rendah tingkat kebudayaannya, dan yang hidup dari berburu atau meramu, ialah misalnya suku-suku bangsa berburu di daerah Gurun Kalahari di Afrika Selatan, yang biasanya disebut orang Bushman, suku-suku bangsa penduduk asli benua Australia, suku-suku bangsa Negrito di daerah hutan rimba di Kamerun dan Kongo, Afrika Tengah, penduduk kepulauan Andaman, penduduk pegunungan Tengah di Irian Timur, dan juga beberapa suku bangsa penduduk asli benua Amerika Utara. Berbagai hal membuktikan bahwa kepercayaan itu tidak timbul sebagai akibat pengaruh agama Nasrani atau Islam, maka kepercayaan tadi malahan tampak seolah-olah terdesak ke belakang oleh kepercayaan kepada makhluk-makhluk halus, dewa-dewa alam, ruh, hantu, dan sebagainya. A. Lang berkesimpulan bahwa kepercayaan kepada dewa tertinggi adalah suatu kepercayaan yang sudah amat tua, dan mungkin merupakan bentuk religi manusia yang tertua. Adapun pendiriannya itu diumumkannya dalam beberapa karangan, antara lain dalam buku yang berjudul The Making of Religion (1898).
Anggapan A. Lang terurai di atas, tak lama kemudian diolah lebih lanjut oleh W.Schmidt. Tokoh besar dalam kalangan ilmu antropologi ini adalah guru besar pada suatu perguruan tinggi yang pusatnya mula-mula di Austria, kemudian di Swiss, untuk mendidik calon-calon pendeta penyiar agama Khatolik dari organisasi Societas Verbi Divini. Di dalam suatu kedudukan serupa itu maka mudah dapat dimengerti bagaimana anggapan akan adanya kepercayaan kepada dewa-dewa tertinggi di alam jiwa bangsa-bangsa yang masih amat rendah tingkat kebudayaannya, adalah suatu anggapan yang amat cocok dengan dasar-dasar cara berpikir W. Schmidt dan juga dengan filsafatnya sebagai sorang pendeta agama Khatolik. Di dalam hubungan itu beliau percaya bahwa agama itu berasal dari titah Tuhan yang diturunkan kepada makhluk manusia pada masa permulaan ia muncul di muka bumi ini. Karena itulah adanya tanda-tanda dari pada Suatu kepercayaan kepada dewa pencipta, justru pada bangsa-bangsa yang paling rendah tingkat kebudayaanya (artinya yang paling tua menurut Schmidt), memperkuat anggapannya mengenai adanya titah Tuhan asli, atau Uroffenbarung itu. Demikianlah kepercayaan yang asli dan bersih kepada Tuhan, atau kepercayaan Urmonotheismus tadi itu malahan ada pada bangsa-bangsa yang tua yang hidup pada zaman ketika tingkat kebudayaan manusia masih rendah. Di dalam zaman kemudian, ketika makin maju kebudayaan manusia, maka makin kaburlah kepercayaan asli terhadap Tuhan; makin banyak kebutuhan manusia, makin terdesaklah kepercayaan asli itu oleh pemujaan kepada makhluk mahluk halus, ruh, dewa, dan sebagainya. Anggapan Schmidt sebagaimana diuraikan di atas dianut oleh beberapa orang sarjana yang untuk sebagian besar bekerja sebagai penyiar agama Nasrani dari organisasi Societas Verbi Divini. Di samping menjalankan tugas sebagai penyiar agama Nasrani di dalam berbagai daerah di muka bumi, mereka melakukan penelitian-penelitian antropologi budaya berdasarkan atas anggapan anggapan pokok daripada guru mereka. Mereka mencari di dalam kebudayaankebudayaan di daerah mereka masing-masing akan adanya tanda-tanda suatu kepercayaan kepada dewa tertinggi.





Daftar pustaka
Teori-teori Beragama-Akademi Pendidikan Islam.html
Max Weber, teori Aksi dan pilihan rasional Max Weber, (sumatra, 2008) pdf.
Fenomenologi jender di jember, hamdanah, musim kemarau, musim kawin 2002
Brian hebblethwaite, The Problem of Theolog, (Cambridge: Cambridge University Press, 1980),
Abdullah,M.Yatimin . 2004. Studi Islam Kontemporer. Pekn baru ; sinar grafika offset.

 Teori-Teori Agama


A.     Teori Rasionalistik
Teori ini di terapkan pada kajian agama mulai abad ke-19 secara umum yang di maksudkan dengan teori rasionalistik adalah keyakinan ilmuan bahwa manusia pra sejarah menjelaskan kepercayaan mereka hampir dekat dengan cara ilmiah. Ketika ada budaya dan kepercayaan suku bangsa lain atau zaman lain yang sangat berbeda dengan budaya mereka, mereka memandang cara suku bangsa lain mendapatkan kepercayaan-nya hampir sama dengan cara berpikir ilmiah yang mereka lakukan.
Malefijt menyebutkan nama seperti: E.B.Tylor (1832-1917),Herbert spencer(1820-1903), Andrew Lng(1844-1912), R.R. Marett (1866-1943) dan Sir james George (1854-1941) sebagai ahli antropologi yang punya kecenderungan rasionalistik. (Malafijt  1968; 48-55).
Tylor (1832 – 1917).Mengungkapkan kosep survival dalam studinya yang berarti bahwa kepercayaan dan praktik-praktik yang dilakukan dalam suatu kesusastraan merupakan survival  atau kelanjutan perjuangan eksistensi dari perilaku budaya masalah dalam bentuk perilaku budaya (Cultural habbits) yang sudah kehilangan makna dan tujuan.
Agama adalah konstruksi akal suku bangsa yang bersangkutan. Agama berasal dari kepercayaan kepada jiwa dan ruh (soul and spirit) dalam diri manusia. Kedua konsep ini berbeda. Satu material, satu lagi tidak material atua gaib. Dikaitkan dengan teori survival, menurut Tylor, praktik keagamaan suatu masa, dengan hanya konsep jiwa tidak akan timbul agama. Agama akan timbul karena adanya praktik ritual secara bersama.
Max weber mendefinisikan sosiologi sebagai studi tentang aksi sosial. Sebagai studi aksi sosial, weber banyak bicara mengenai hubungan sosial dan motivasi, yang menurut weber banyak dipengaruhi oleh rasionalitas formal. Rasionalitas formal, meliputi proses berfikir dalam membuat pilihan mengenai alat dan tujuan (Ritzer, 2005). Dalam konteks ini, hubungan sosial berkaitan dengan motivasi dan rasionalitas formal,dikenal dalam 3 sifat hubungan, yaitu:
1.      Hubungan sosial yang bersifat atau didasarkan pada tradisi, yaitu hubungan sosial yang terbangun atas dasar kebiasaan/tradisi di masyarakat.
2.      Hubungan sosial yang bersifat atau didasarkan pada koersif/tekanan. Yaitu hubungan sosial yang terbangun dari rekayasa sosial dari pihak yang memiliki otoritas (kekuasaan) terhadap powerless.
3.      Hubungan sosial yang bersifat atau didasarkan pada rasionalitas (akal/logika).

Menurut Max Weber, tindakan rasional adalah tindakan manusia yang dapat mempengaruhi individu-individu lain dalam masyarakat. Weber membagi tindakan rasional ini kepada empat jenis atau bentuk.
1.      Tindakan rasional instrumental yaitu tindakan yang diarahkan secara rasional untuk mencapai sesuatu tujuan tertentu.
2.      Tindakan rasional nilai yaitu tindakan yang akan ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan atas dasar keyakinan seseorang individu terhadap nilai-nilai estetika, etika atau keagamaan.
3.      Tindakan emosional yaitu segala tindakan seseorang individu yang akan dipengaruhi oleh perasaan dan emosi.
4.      tindakan tradisional yaitu tindakan dimana seseorang akan melakukan suatu tindakan hanya karena mengikuti amalan tradisi atau kebiasaan yang telah berlaku.

Sebagai contoh dari teori rasionalistik ini adalah, seperti yang kita ketahui bahwa teori rasional itu masuk akal, seperti hal nya kita memotong apel memakai pisau itu sangat masuk akal, bukan memotong apel memakai sendok. Jika dalam agama akan berbeda ranah, karena agama tidak rasio. Adanya kepercayaan kepada tanggalan primbon jawa.

B.     Teori Linguistik
Penelitian bahasa untuk mengetahui kaidah bahasa pada manusia dalam beragama, bisa berupa penyampaian wahyu, kajian ilmu dsb.
Linguistik yaitu ilmu yang mempelajari bahasa-bahasa. Sebagai suatu ilmu pengetahuan, ilmu tentang bahasa. Bahwa bahasa-bahasa memegang peranan utama dalam perkembangan kebudayaan manusia, pada hakekatnya merupakan wahana utama untuk meneruskan adat-istiadat, ajaran dan budaya termasuk kepercayaan dari generasi ke generasi, maka antropologi makin bersandar pada ilmu-ilmu bahasa. Ahli-ahli bahasa antropologi sangat tertarik pada sejarah dan struktur bahasa-bahasa yang tidak tertulis.
Kajian terhadap agama secara ilmiah di mulai sesudah kajian terhadap bahasa mulai berkembang. Keduanya punya persamaan sebagai gejala universal dari kehidupan manusia. Dua bersaudara  Jacob Grimm (1775-1863) dan Wilhem Grimm (1787-1859) yang memulai penggabungan kajian mitos dengan bahasa. Di selesaikan dalam kitab Rig-veda yang di perkirakan ditulis dua abad sebelum masehi. Keagamaan itu adalah cerita rakyat modern yang semula adalah mitos yang di tambah,di kurang atau di korup.
Friedrich Max Muller(1823-1900)  melanjutkan kajian agama dengan teori linguistik. Dalam tulisanya tentang metodologi kompratif, ia menyimpulkan bahwa mitos yunani  sebenarnya tidak di pahami oleh orang yunani sendiri,karena mitos itu berasal dari proto-indi eropa. Menurutnya,agama di dasarkan pada kepercayaan pada nyawa manusia, dari membedakan antara orang yang hidup dan yang mati pada ada atau tidak adanya nyawa (soul and mind) kemudian muller menyaimpulkan bahwa hampir semua legenda dan cerita rakyat,bahkan sampai ke peringatan hari natal dan tahun baru berasaldari mitos (solar myth).(Malefijt 1968;44-46)
Teori linguistik ini mempelajari timbulnya bahasa dengan bagaimana terjadinya variasi dalam bahasa-bahasa selama jangka waktu berabad-abad. Dari ilmu-ilmu bahasa dikenal sebagai ilmu bahasa perbandingan atau ilmu bahasa sejarah. Bidang ilmu bahasa ini pada umumnya disebut ilmu bahasa deskriptif, secara lebih terperinci lagi disebut sebagai ilmu mengenal konstruksi bahasa disebut ilmu bahasa struktural, sedangkan ilmu  yang mempelajari bagaimana bahasa dipergunakan dalam logat sehari-hari disebut sosiolinguistik atau etnolinguistik.
Contoh dalam toeri linguistik ini dalam bahasa yang menyalurkan kedalam budaya agama, seperti cerita rakyat malin kundang, yang dari zaman dahulu sudah banyak dibicarakan dari mulut ke mulut, padahal belum tau kebenarannya. Dan begitu juga dengan khutbah kalau kita posisikan dengan pendekatan bisa menjadi kebudayaan. Dan juga adanya kata “pamali” sebagai unsur larangan yang memepengaruhi alam pikiran mereka, sehingga mereka takut untuk melakukannya.



C.     Teori Fenomenologis
Fenomenologi adalah seperangkat konsep yang berhubungan satu sama lain secara logis membentuk sebuah kerangka pemikiran yang berfungsi untuk memahami, menafsirkan dan menjelaskan kenyataan atau masalah yang dihadapi.
Fenomen berarti “sebagai yang di maksudkan atau diturunkan sendiri, dengan demikian, teori fenomenologis adalah kajian teradap sesuatu menurut yang dikaji. Dalam halini masyarakat yang menjadi objek penelitian dengan menggunakan pendekatan fenomenologis berarti berusaha memahami simbol,kepercayaan,atau ritual menurut yang mereka pahami.Rudolf Otto(1869-1937).
Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu gejala atau ilmu tentang gejala-gejala. Fenomenologi memberi tekanan pada keperluan melukiskan gejala-gejala tanpa prasangka. Istilah fenomenologi dipakai untuk pertama kali oleh J.H. Lambert (1728-1777), yang menyebut fenomenologi sebagai sebuah penyelidikan kritis mengenai hubungan antara sesuatu yang lepas dari pertimbangan dan sesuatu sebagai akibat pengalaman kita. jadi istilah fenomenologi menggarisbawahi masalah yang khas manusia, yaitu masalah pengalaman.Meski demikian, beberapa ahli memberikan batasan terhadap ilmu ini sesuai dengan kecenderungan masing, antara lain:
·         Joachim Wach mendefinisikan Fenomenologi Agama sebagai “studi yang sistematis, jadi bukan historis, mengenai gejala-gejala agama, seperti doa, imamat, sekte, dan lain-lain”.
·         Menurut Raffaele Pettazzoni, Fenomenologi Agama adalah ilmu yang terutama bertugas menemukan beberapa struktur di dalam kebanyakan gejala keagamaan.
·         W.B. Kristensen mendefinisikan Fenomenologi Agama sebagai “ilmu yang memakai pandangan yang membandingkan data-data keagamaan, supaya mendapat dukungan baru untuk interpretasi mereka”
·         Geo Widengren mendefinisikan Fenomenologi Agama sebagai ilmu yang mengklasifikan semua gejala yang berbeda dalam agama dan ilmu yang melukiskan agama dalam manifestasi yang berbeda dalam kehidupan.
·         Ake Hultkrantz meringkaskan definisi-definisi tersebut sebagai berikut: Fenomenologi Agama adalah penelitian yang sistematis mengenai bentuk-bentuk agama, yaitu bagian dari penelitian keagamaan yang mengklasifikan dan mengkaji secara sistematis konsep-konsep keagamaan, upacara-upacara keagamaan, tradisi-tradisi mite dari segi pandangan yang morfologis dan tipologis.

Tujuan fenomenologi agama adalah mengkaji dan kemudian mengerti pola atau struktur agama atau menemukan esensi agama di balik manifestasinya yang beragam atau memahami sifat-sifat yang unik pada fenomena keagamaan serta untuk memahami peranan agama dalam sejarah dan budaya manusia.
Pendekatan fenomenologi dalam studi agama muncul sebagai reaksi terhadap beberapa pendekatan sebelumnya, yaitu:
v  pertama pendekatan teologi yang normatif (atau sebut saja: teologis-normatif). Dalam mengkaji tradisi agama, pendekatan ini digunakan untuk menghasilkan dan menyumbangkan pemahaman yang lebih baik mengenai dunia agama. Sehingga menjadikan agama tertentu (terutama agamanya sendiri) sebagai agama yang benar, sementara agama lain salah.
v  Kedua pendekatan reduksionis. Pendekatan ini melihat agama lebih sebagai fakta-fakta intelektual, emosional, psikologis dan sosiologis. Di sini agama diselidiki melalui beberapa disiplin di luar ilmu agama (teologi). Ilmu-ilmu ini dalam melihat agama (termasuk persoalan ketuhanan) menghasilkan beberapa kesimpulan, misalnya ia sebagai pemerasan  ekonomis (Marx), frustasi jiwa manusia (Feuerbach), suatu fase manusia dalam keadaan keterbelakangan (Comte), dan lain-lain. Ketika mencari asal-usul agama, ahli sosiologi agama memulai kerjanya dalam masyarakat yang paling “primitif”. Melalui penelitian terhadap masyarakat yang paling “awal/primitif” itu diharapkan diperoleh pemahaman mengenai proses perkembangan agama sepanjang sejarah.

Fenomenologi Agama merupakan kajian descriptive oriented.Fenomenologi Agama tidak berusaha untuk mengevaluasi dan memberi penilaian terhadap fenomena keagamaan, di mana hal ini merupakan domain filsafat agama.
Fenomena keagamaan yang dimaksud meliputi ritual, simbol-simbol agama, doa, upacara, teologi (baik tertulis atau lisan), orang suci, seni, kepercayaan, dan sejumlah pelaksanaan keagamaan lainnya, baik yang dilakukan secara bersama-sama maupun individu, publik atau privat.
Pendekatan fenomenologi merupakan usaha untuk menggambarkan fenomena yang tengah dipelajari se-akurat mungkin, tidak hanya mencakup peristiwa-peristiwa yang terjadi, tetapi juga motif di belakang peristiwa-peristiwa tersebut.
Pendekatan fenomenologi tidak diorientasikan kepada pemecahan persoalan  (problem solving), tetapi kepada deskripsi empatik. Pendekatan fenomenologi berusaha menggambarkan fenomena dari perspektif pelaku (practioner), yang di dalam disiplin antrpologi dikenal dengan insider.
Fenomenologi Agama memiliki corak comparative, meski dalam pengertian yang terbatas.Penekanan Fenomenologi Agama ada pada data, tetapi semua data digunakan untuk menemukan makna (signification). Makna ditemukan dengan baik pada data dengan menggunakan metode komparatif.
Fenomenologi Agama dalam mengambarkan praktek-praktek keagamaan, berusaha melintasi tradisi agama yang berbeda-beda, sehingga menghindari kesimpulan berurutan; dari yang terbaik dan yang terburuk, dalam bentuk keunggulan (superiority) atau kerendahan (inferiority).
Tujuan akhir Fenomenologi Agama adalah memahami (understanding) struktur dan makna esensial dari pengalaman keagamaan (prinsip eidetic vision).
Kerja Fenomenologi Agama dimulai dengan melakukan pengamatan sosial, kemudian data-data sosiologis itu digabungkannya dengan ide-ide keagamaan. Dengan begitu fenomenologi agama hendak mememukanlogika interndari agama sebagai fenomena universal di dunia ini. Atau dengan kata lain fenomenologi agama berusaha mencari hakikat atau essensi dari apa yang ada di balik segala macam bentuk manifestasi agama dalam kehidupan manusia di muka bumi. Fenomena keagamaan dilihat sebagai gejala historis-empiris yang bersifat partikular, namun pada saat yang sama secara fenomenologis ia mempunyai pola umum (general pattern) yang bisa dipahami secara intuitif dan rasional oleh umat manusia di manapun mereka berada.
Fenomenologi Agama menggunakan “perangkat” rohani manusia untuk melakukan transendensi, yang biasanya disebut “kesadaran-diri”, intuisi dan semacamnya.
“perangkat” rokhani manusia ini adalah suatu hal yang sebenarnya tidak dikenal dalam tradisi ilmiah pada umumnya.
Keunikan Fenomenologi Agama adalah menggunakan perangkat yang selama ini diklaim sebagai objektivitas, tetapi juga intuisi sekaligus.
  


D.     Teori yang berorientasi pada upacara religi.
            Robertson Smit (186-1894),seorang ahli teologi, sastra dan ilmu pasti mengingatkan bahwa di samping sistem kepercayaan dan doktrin, agama mempunyai sistem upacara keagamaan. Upacara itu berguna untuk mengintensitifkan solidaritas sosial. Upacara tersebut selain dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk berbakti kepada Tuhan dan mendekatkan diri kapada-Nya. Tetapi banyak pula yang melakukannya sekedar kewajiban sosial.
M.T.Preusz (1869-1938). Seorang etnografer jerman yang ahli tentang suku Indian di meksiko, berpendapat bahwa wujud religi tertua merupakan tindakan-tindakan manusia untuk mewujudkan keperluan hidupnya yang tidak dapat di capai dengan akal dan kemampuan biasa. Dia menegaskan bahwa pusat dari tiap sistem religi adalah ritus dan upacara. Dengan demikian, tindakan itu bersifat religius-magis, penyembahan dan usaha magis untuk membujuk dewa atau Tuhan yang di sembah. Kemudianpreusz menambahkan bahwa upacara keagaman yang paling penting adalah ritus kematian.
Ahli antrupologi prancis,R. Hetz juga berpendapat bahwa, upacara kematian selalu dilakukan manusia dalam rangka adat istiadat dan struktur sosial. Menurutnya juga ada persamaan antara upacara kematian dengan upacara  kelahiran serta upacara pernikahan,yaitu sama sama upacara peralihan. Yang di namakan dengan rites de passage. Dalam upacara peralihan itu terdapat upacara bagian perpisahan,peralihan dan bagian integrasi kembali.
Contoh dari teori ini adalah seperti memberikan sesaji pada upacara, dan manusia ikut memakan bagian tertentu dari apa yang telah dipersembahkan dalam upacara itu, Jadi ini sebagai orientasi upacara religi.
Manusia adalah makhluk religius, Mircea Eliade (dalam King Richard, 2001:27) menyebutnya homo religious, sehingga manusia memiliki kesadaran bahwa hidupnya merupakan karunia Tuhan. Oleh karena itu, manusia memahami bahwa hidup itu harus dijaga dan dipelihara agar tetap kuat, sehat, dan selamat.
Teori W. Robertson Smith (1846-1894) tentang upacara religi. Dalam bukunya yang berjudul Lectures on Religion of the Semites (1989) Robertson Smith mengemukakan tiga gagasan mengenai asas-asas dari religi dan agama pada umunya.
v  Gagasan yang pertama mengenai soal bahwa di samping sistem keyakinan dan doktrin, sistem upacara juga merupakan suatu perwujudan dari religi atau agama yang memerlukan sutudi dan analisis yang khusus.
v  Gagasan yang kedua adalah bahwa upacara religi atau agama yang biasanya dilaksanakan oleh banyak warga masyarakat pemeluk religi atau agama yang bersangkutan bersama-sama. Artinya, di samping sebagai kegiatan keagamaan tidak sedikit dari masyarakat yang melaksanakan upacara religi atau agama menganggap melakukan upacara itu sebagai suatu kewajiban sosial.
v  Gagasan yang ketiga adalah teorinya mengenai fungsi upacara bersaji. Dikatakan pada pokoknya upacara seperti itu, dimana manusia menyajikan sebagian dari seekor binatang, terutama darahnya kepada dewa. Dalam hal itu dewa atau para dewa dipandang juga sebagai warga komunitas, walaupun sebagai warga istimewa.

Rudolf Otto menekankan sikap kagum terpesona  dari penganut agama terhadap zat yang goib (mysterium), maha dahsyat,maha baik,maha adil, maha bijak sana. (tremendum) dan kramat (sacer). Karena itu,manusia tertarik untuk bersatu dengan zat tersebut. Teori Otto tampak cocok dengan agama besar dunia dan tidak cocok dengan agama primitive. Otto berpendapat bahwakepercayaan masyarakat primitive belumlah agama. Dengan demikian,Koentjaraningrat menilainya lemah dalam ilmu antropologi.(1987: 65-66).

E.     Teori Transeden dan Imanen
Relasi Tuhan dengan manusia maupun alam merupakan fenomena baru masyarakat modern dalam memahami Tuhan sehingga pendekatan epistemologis menjadi sebuah keharusan. Tuhan dipahami dalam perspektif antroposentris dengan titik tekan pada relasi antara Tuhan dengan manusia dan alam. Relasi antara Tuhan dengan manusia menimbulkan pemikiran-pemikiran yang secara filosofis cenderung imanen, pada satu sisi, dan transenden, pada sisi yang lain, bahkan menimbulkan pemikiran yang menganggap bahwa Tuhan itu imanen sekaligus transenden.
Transenden yaitu segala sesuatu yang di luar kesanggupan manusia, luar biasa. Sedangkan imanen yaitu berada dalam kesadaran atau dalam akal budi
Imanensi maupun transendensi merupakan paradigma ontologism metafisis di kalangan filosof maupun teolog dalam membahas relasi antara manusia dengan Tuhan. Di sinilah terdapat benang merah relasi manusia dan Tuhan dengan pendekatan fenomenologis yang dikenal dengan istilah intensionalitas. Istilah ini merujuk bahwa manusia mempunyai keterarahan dengan yang lain, termasuk Tuhan. Keterarahan manusia kepada Tuhan merupakan suatu keniscayaan. Keterarahan ini semakin jelas dalam pandangan Martin Buber sebagai wujud keterarahan aku dengan Tuhan. Martin Buber menganalogikan keterarahan manusia pada Tuhan dengan keterarahan pada benda, yang disebut dengan istilah relasi Aku-Itu dan Aku-Engkau. Menurut Martin Buber relasi Aku-Itu dan Aku-Engkau merupakan cara untuk mewujudkan kesadaran Aku. Artinya, bahwa kesadaran Aku bukan tunggal yang hanya ditentukan oleh subjek dirinya, tetapi ditentukan oleh subjek lain (Aku lain) yang dinamakan engkau. Jadi Engkau merupakan suatu dimensi baru meng-ada-kan Aku dalam hubungannya dengan Aku lain. Karenanya, hanya dengan pertemuan personal Aku-Engkau, Aku mengalami kesadaran dan kehadiran yang nyata. Kehadiran Aku dan Engkau merupakan sisi dari proses menjadi ADA. Berangkat dari hal ini, Martin Buber memandang manusia, yaitu Aku selalu dalam relasi dialogis dengan benda-benda maupun dengan sesame dan Tuhan. Relasi dialogis ini merupakan suatu keharusan dalam perjumpaan dengan Engkau. Perjumpaan ini menyebabkan Aku menjadi Ada karena Engkau, sebagaimana ucapannya, “Aku membutuhkan Engkau untuk menjadi Ada, Aku Ada, karena Aku berkata Engkau.
            Pada akhirnya kesadaran yang terdapat pada Aku sebagai inti kepribadian manusia merupakan aktivitas jiwa. Sehingga, kesadaran atau suara hati merupakan aspek etis yang menempatkan roh sebagai bentuk yang paling tinggi dari semua itu dan dianggap sebagai jendela jiwa yang terarah pada Allah Karena itu, dibalik kesadaran manusia terdapat sesuatu yang turut beraktivitas dalam kehidupan sehingga membawa manusia pada yang mutlak, yaitu Roh. Keterarahan pada yang Mutlak itu merupakan sesuatu yang diberi untuk manusia karena Allah merupakan ide mutlak manusia, sebagaimana teori Plato dan Descrates. Relasi keduanya yang melahirkan konsep imanensi dan transendensi ini dalam perkembangan berikutnya menimbulkan faham-faham ketuhanan yang menjadi perdebatan di antara paham-paham tersebut. Tuhan dianggap sebagai imanen sekaligus transenden bagi penganut teisme; Tuhan dianggap sebagai transenden terhadap alam dan manusia bagi kaum deisme. Tuhan dianggap sebagai yang imanen bagi kaum panteisme. Di samping itu, ada juga yang pesimis bahwa akal manusia bisa menjangkau Tuhan sebagaimana kaum agnostisisme.
Relasi Tuhan dengan manusia dan alam yang dikonsepsikan para teolog yang cenderung spiritualis-monistik beranggapan bahwa peleburan dalam relasi tersebut akan melenyapkan eksistensi manusia dan alam sebagaimana menjadi pegangan kaum panteisme. Sementara itu, dikalangan masyarakat modern yang rasional melalui pendekatan epistemologis beranggapan bahwa peleburan dalam relasi tersebut tidaklah menghilangkan eksistensi manusia dan alam, tetapi justru semakin mengeksiskan manusia. Ini adalah anggapan kaum panenteisme.
Persepsi panenteisme mengenai Tuhan ini menjadi fenomena baru masyarakat modern karena paham ini tidak menafikan kemampuan dan kebebasan manusia. Fenomena ini berangkat dari pemahaman epistemologis filosofis tentang eksistensi Tuhan relevansinya dengan  pengetahuan ilmiah sehingga paham ini masih menghargai pengetahuan ilmiah dalam memahami Tuhan. Pengetahuan ilmiah menjadi perangkat metodologis dalam memahami eksistensi Tuhan. Tuhan tidak hanya dipandang dalam perspektif teologis saja. Eksistensi Tuhan menjadi perdebatan yang panjang antara panteisme dengan panenteisme mengenai relasi yang disertai dengan peleburan manusia dengan Tuhan.

F.      Teori Asal Usul Agama
1.      Teori Jiwa
“Teori Jiwa”, pada mulanya berasal dari seorang sarjana antropologi Inggris, E.B.Tylor, dan diajukan dalam kitabnya yang terkenal berjudul Primitive Cultures (1873). Menurut Tylor, asal mula agama adalah kesadaran manusia akan faham jiwa. Kesadaran akan faham itu disebabkan karena dua hal, ialah :
a)      Perbedaan yang tampak kepada manusia antara hal-hal yang hidup dan hal-hal yang mati. Suatu makhluk pada suatu saat bergerak gerak, artinya hidup; tetapi tak lama kemudian makhluk tadi tak bergerak lagi, artinya mati. Demikian manusia lambat laun mulai sadar bahwa gerak dalam alam itu, atau hidup itu, disebabkan oleh suatu hal yang ada di samping tubuh-jasmani dan kekuatan itulah yang disebut jiwa.
b)      Peristiwa mimpi. Dalam mimpinya manusia melihat dirinya di tempat-tempat lain daripada tempat tidurnya. Demikian manusia mulai membedakan antara tubuh jasmaninya yang ada di tempat tidur, dan suatu bagian lain dari dirinya yang pergi ke lain tempat. Bagian lain itulah yang disebut jiwa.

Sifat abstrak dari jiwa tadi menimbulkan keyakinan di antara manusia bahwa jiwa dapat hidup langsung, lepas dari tubuh jasmani. Pada waktu hidup, jiwa masih tersangkut kepada tubuh jasmani, dan hanya dapat meninggalkan tubuh waktu manusia tidur dan waktu manusia jatuh pingsan. Karena pada suatu saat serupa itu kekuatan hidup pergi melayang, maka tubuh berada di dalam keadaan yang lemah. Tetapi kata Tylor, walaupun melayang, hubungan jiwa dengan jasmani pada saat-saat seperti tidur atau pingsan, tetap ada. Hanya pada waktu seorang makhluk manusia mati, jiwa melayang terlepas, dan terputuslah hubungan dengan tubuh jasmani untuk selama-lamanya. Hal itu tampak dannyata, kalau tubuh jasmani sudah hancur berubah debu di dalam tanah atau hilang berganti abu di dalam api upacara pembakaran mayat; maka jiwa yang telah merdeka terlepas dari jasmaninya itu dapat berbuat semau-maunya. Alam semesta penuh dengan jiwa-jiwa merdeka itu, yang oleh Tylor tidak disebut soul atau jiwa lagi, tetapi disebut spirit atau mahluk halus. Demikian pikiran manusia telah mentransformasikan kesadarannya akan adanya jiwa menjadi kepercayaan kepada mahluk-mahluk halus.
v  Pada tingkat tertua di dalam evolusi religinya manusia percaya bahwa mahluk-mahluk halus itulah yang menempati alam sekeliling tempat tinggal manusia. Makhluk-makhluk halus tadi, yang tinggal dekat sekeliling tempat tinggal manusia, yang bertubuh halus sehingga tidak dapat tertangkap panca indera manusia, yang mampu berbuat hal-hal yang tak dapat diperbuat manusia, mendapat suatu tempat yang amat penting di dalam kehidupan manusia sehingga menjadi obyek daripada penghormatan dan penyembahannya, dengan berbagai upacara berupa doa, sajian, atau korban. Agama serupa itulah yang disebut oleh Tylor animisme.
v  Pada tingkat kedua di dalam evolusi agama, manusia percaya bahwa gerak alam hidup itu juga disebabkan oleh adanya jiwa yang ada di belakang peristiwa dan gejala alam itu. Sungai-sungai yang mengalir dan terjun dari gunung ke laut, gunung yang meletus, gempa bumi yang merusak, angin taufan yang menderu, jalannya matahari di angkasa, tumbuhnya tumbuh-tumbuhan dan sebagainya, semuanya disebabkan oleh jiwa alam. Kemudian jiwa alam tadi itu dipersonifikasikan, dianggap oleh manusia seperti makhluk-makhluk dengan suatu pribadi, dengan kemauan dan pikiran. Makhluk-makhluk halus yang ada di belakang gerak alam serupa itu disebut dewa-dewa alam.
v  Pada tingkat ketiga di dalam evolusi religi, bersama-sama dengan timbulnya susunan kenegaraan di dalam masyarakat manusia, timbul pula kepercayaan bahwa alam dewa-dewa itu juga hidup di dalam suatu susunan kenegaraan, serupa dengan di dalam dunia makhluk manusia. Demikian ada pula suatu susunan pangkat dewa-dewa mulai dari raja dewa sebagai yang tertinggi, sampai pada dewa-dewa yang terendah. Suatu susunan serupa itu lambat laun akan menimbulkan suatu kesadaran bahwa semua dewa itu pada hakekatnya hanya merupakan penjelmaan saja dari satu dewa yang tertinggi itu. Akibat  dari kepercayaan itu adalah berkembangnya kepercayaan kepada satu Tuhan yang Esa, dan timbulnya agama-agama monotheisme.

2.      Teori Batas Akal
Teori Batas Akal”, berasal dari sarjana besar J.G. Frazer, dan diuraikan olehnya dalam jilid I dari bukunya yang terdiri dari 12 jilid berjudul The Golden Bough (1890). Menurut Frazer, manusia memecahkan soal-soal hidupnya dengan akal dan sistem pengetahuannya; tetapi akal dan sistem pengetahuan itu ada batasnya. Makin maju kebudayaan manusia, makin luas batas akal itu; tetapi dalam banyak kebudayaan, batas akal manusia masih amat sempit.  . Magic menurut Frazer adalah segala perbuatan manusia (termasuk abstraksi-abstraksi dari perbuatan) untuk mencapai suatu maksud melalui kekuatan-kekuatan yang ada dalam alam, serta seluruh kompleks anggapan yang ada di belakangnya. Pada mulanya kata Frazer, manusia hanya mempergunakan ilmu gaib untuk memecahkan soal hidupnya yang ada di luar batas kemampuan dan pengetahuan akalnya.
Agama waktu itu belum ada dalam kebudayaan manusia. Lambat laun terbukti bahwa banyak dari perbuatan magicnya itu tidak ada hasilnya juga, maka mulailah ia percaya bahwa alam itu didiami oleh mahluk-mahluk halus yang lebih berkuasa daripadanya, maka mulailah ia mencari hubungan dengan makhluk-makhluk halus yang mendiami alam itu. Demikianlah timbul agama.
Menurut Frazer memang ada suatu perbedaan yang besar di antara magic dan religion. Magic adalah segala sistem perbuatan dan sikap manusia untuk mencapai suatu maksud dengan menguasai dan mempergunakan kekuatan dan hukum-hukum gaib yang ada di dalam alam. Sebaliknya, religion adalah segala sistem perbuatan manusia untuk mencapai suatu maksud dengan cara menyandarkan diri kepada kemauan dan kekuasaan makhluk-makhluk halus seperti ruh, dewa dsb., yang menempati alam. Kecuali menguraikan pendiriannya tentang dasar-dasar religi, Frazer juga membuat dalam karangannya The Golden Bough tersebut, suatu klarifikasi daripada segala macam perbuatan ilmu gaib kepercayaan dalam beberapa tipe ilmu gaib.

3.      Teori Krisis dalam Hidup Individu
Pandangan ini berasal antara lain dari tokoh-tokoh seperti M. Crawley dalam bukunya Tree of Life (1905), dan diuraikan secara luas oleh A. Van Gennep dalam bukunya yang terkenal, Rites de Passages (1909). Menurut mereka tersebut, dalam jangka waktu hidupnya  manusia mengalami banyak krisis yang menjadi obyek perhatiannya, dan yang sering sangat menakutinya. Betapapun bahagianya hidup orang, ia selalu harus ingat akan kemungkinan-kemungkinan timbulnya krisis dalam hidupnya. Krisis-krisis itu yang terutama berupa bencana-bencana sakit dan maut, tak dapat dikuasainya dengan segala kepandaian, kekuasaan, atau kekayaan harta benda yang mungkin dimilikinya. Dalam jangka waktu hidup manusia, ada berbagai masa di mana kemungkinan adanya sakit dan maut itu besar sekali, yaitu misalnya pada masa kanak-kanak, masa peralihan dari usia muda ke dewasa, masa hamil, masa kelahiran, dan akhirnya maut.
Dalam hal menghadapi masa krisis serupa itu manusia butuh melakukan perbuatan untuk memperteguh imannya dan menguatkan dirinya. Perbuatan-perbuatan serupa itu, yang berupa upacara-upacara pada masa-masa krisis tadi itulah yang merupakan pangkal dari agama dan bentuk-bentuk agama yang tertua

4.      Teori Kekuatan Luar Biasa
Pendirian ini, yang untuk mudahnya akan kita sebut “Teori Biasa”, terutama diajukan oleh sarjana antropologi kebangsaan Inggris, R.R. Marett dalam bukunya The Threshold of Religion (1909). Dia mulai menguraikan teorinya dengan suatu kecaman terhadap anggapan-anggapan Tylor mengenai timbulnya kesadaran manusia terhadap jiwa. Menurut Marett kesadaran tersebut adalah hal yang bersifat terlampau kompleks bagi pikiran makhluk manusia yang baru ada pada tingkat-tingkat permulaan dari kehidupannya di muka bumi ini. Sebagai lanjutan dari kecamannya terhadap teori animisme Tylor itu, maka Marett mengajukan sebuah anggapan baru. Katanya, pangkal dari segala kelakuan keagamaan ditimbulkan karena suatu perasaan rendah terhadap gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa yang dianggap sebagai biasa di dalam kehidupan manusia. Alam tempat gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa itu berasal, dan yang dianggap oleh manusia dahulu sebagai tempat adanya kekuatan-kekuatan yang melebihi kekuatan-kekuatan yang telah dikenal manusia di dalam alam sekelilingnya, disebut Supernatural. Gejala-gejala, hal-hal, dan peristiwa-peristiwa yang luar biasa itu dianggap akibat dari suatu kekuatan supernatural, atau kekuatan luar biasa, atau kekuatan sakti.
Adapun kepercayaan kepada suatu kekuatan sakti yang ada dalam gejala-gejala, hal-hal dan peristiwa-peristiwa yang luar biasa tadi, dianggap oleh Marett suatu kepercayaan yang ada pada makhluk manusia sebelum ia percaya kepada makhluk halus dan ruh; dengan kata lain, sebelum ada kepercayaan animisme. Itulah sebabnya bentuk agama yang diuraikan Marett itu sering disebut pra-animisme.

5.      Teori Sentimen Kemasyarakatan
“Teori Sentimen Kemasyarakatan”, berasal dari seorang sarjana ilmu filsafat dan sosiologi bangsa Perancis bernama E. Durkheim, dan diuraikan olehnya dalam bukunya Les Formes Elementaires de la Vie Religieuse (1912). Durkheim yang juga menjadi amat terkenal dalamkalangan ilmu antropologi budaya, pada pangkalnya mempunyai suatucelaan terhadap Tylor, serupa dengan celaan Marett tersebut di atas. Beliauberanggapanbahwaalampikiranmanusiapadamasapermulaanperkembangan kebudayaannya itu belum dapat menyadari suatu fahamabstrak “jiwa”, sebagai suatu substansi yang berbeda dari jasmani.Kemudian Durkheim juga berpendirian bahwa manusia pada masa itubelum dapat menyadari faham abstrak yang lain seperti perubahan darijiwa menjadi ruh apabila jiwa itu telah terlepas dari jasmani yang mati.Celaan terhadap teori animisme Tylor itu termaktub dalam permulaanbuku Les Formes Elementaires de la Vie Religieuse, tempat beliaumengumumkan suatu teori yang baru tentang dasar-dasar agama yangsama sekali berbeda dengan teori-teori yang pernah dikembangkan olehpara sarjana sebelumnya. Teori itu berpusat kepada beberapa pengertiandasar, ialah :
a)      Makhluk manusia pada waktu ia pertama kali timbul di muka bumi, mengembangkan aktivitas religi itu bukan karena ia mempunyai bayangan-bayangan abstrak tentang jiwa atau roh dalam alam pikirannya, yaitu suatu kekuatan yang menyebabkan hidup dan gerak di dalam alam, melainkan karena suatu getaran jiwa, suatu emosi keagamaan, yang timbul di dalam alam jiwa manusia dahulu, karena pengaruh suatu rasa sentiment kemasyarakatan.
b)      Sentimen kemasyarakatan itu dalam batin manusia dahulu berupa suatu kompleks perasaan yang mengandung rasa terikat, rasa bakti, rasa cinta dan sebagainya terhadap masyarakatnya sendiri, yang merupakan seluruh alam dunia di mana ia hidup.
c)      Sentimen kemasyarakatan yang menyebabkan timbulnya emosi keagamaan, yang sebaliknya merupakan pangkal daripada segala kelakuan keagamaan manusia itu, tentu tidak selalu berkobar-kobar dalam alam batinnya. Apabila tidak dipelihara, maka sentimen kemasyarakatan itu menjadi lemah dan latent, sehingga perlu dikobarkan kembali. Salah satu cara untuk mengobarkan kembali sentimen kemasyarakatan adalah dengan mengadakan suatu kontraksi masyarakat artinya dengan mengumpulkan seluruh masyarakat dalam pertemuan-pertemuan raksasa.
d)      Emosi keagamaan yang timbul karena rasa sentiment kemasyarakatan, membutuhkan suatu obyek tujuan. Sifat apakah yang menyebabkan sesuatu hal itu menjadi obyek daripada emosi keagamaan bukan sifat luar biasanya, bukan pula sifat anehnya, bukan sifat megahnya, bukan sifat ajaibnya, melainkan tekanan anggapan umum dalam masyarakat. Obyek itu ada karena salah satu peristiwa kebetulan dalam sejarah kehidupan sesuatu masyarakat di masa lampau menarik perhatian banyak orang di dalam masyarakat. Obyek yang menjadi tujuan emosi keagamaan itu juga mempunyai obyek yang bersifat keramat, bersifat sakral, berlawanan dengan obyek lain yang tidak mendapat nilai keagamaan (ritual value) itu, ialah obyek yang tak-keramat, yang profane.
e)      Obyek keramat sebenarnya tidak lain daripada suatu lambang masyarakat. Pada suku-suku bangsa asli benua Australia misalnya, obyek keramat, pusat tujuan daripada sentimen-sentimen kemasyarakatan, sering berupa sejenis binatang, tumbuh-tumbuhan, tetapi sering juga obyek keramat itu berupa benda. Oleh para sarjana, obyek keramat itu disebut totem. Totem itu (jenis binatang atau obyek lain) mengonkretkan prinsip totem yang ada di belakangnya, dan prinsip totem itu adalah suatu kelompok tertentu di dalam masyarakat, berupa clan atau lain.

Pendirian-pendirian tersebut pertama di atas, ialah emosi keagamaan dan sentimen kemasyarakatan, adalah menurut Durkheim, pengertian-pengertian dasar yang merupakan inti atau essence daripada tiap religi, sedangkan ketiga pengertian lainnya ialah kontraksi masyarakat, kesadaran akan obyek keramat berlawanan dengan obyek tak-keramat, dan totem sebagai lambang masyarakat, bermaksud memelihara kehidupan daripada inti. Kontraksi masyarakat, obyek keramat dan totem akan menjelmakan
(a) upacara,
(b) kepercayaan dan
(c) mitologi.

Ketiga unsur tersebut terakhir ini menentukan bentuk lahir daripada sesuatu religi di dalam sesuatu masyarakat yang tertentu.
Susunan tiap masyarakat dari beribu-ribu suku bangsa di muka bumi yang berbeda-beda ini telah menentukan adanya beribu-ribu bentuk religi yang perbedaan-perbedaannya tampak lahir pada upacara-upacara, kepercayaan dan mitologinya.

6.      Teori Wahyu Tuhan
“Teori Firman Tuhan”, pada mulanya berasal dari seorang antropolog Austria bernama W. Schmidt. Sebelum Schmidt sebenarnya ada tokoh lain yang pernah mengajukan juga pendirian tersebut. Dia adalah seorang ahli kesusasteraan bangsa Inggris bernama A. Lang. Sebagai ahli kesusasteraan, Lang telah banyak membaca tentang kesusasteraan rakyat dari banyak suku bangsa di dunia. Di dalam dongeng-dongeng itu, Lang sering mendapatkan adanya seorang tokoh dewa yang oleh suku-suku bangsa bersangkutan dianggap dewa tertinggi, pencipta seluruh alam semesta serta isinya, dan penjaga ketertiban alam dan kesusilaan. Kepercayaan kepada seorang tokoh dewa serupa itu menurut Lang terutama tampak pada suku-suku bangsa yang amat rendah tingkat kebudayaannya, dan yang hidup dari berburu atau meramu, ialah misalnya suku-suku bangsa berburu di daerah Gurun Kalahari di Afrika Selatan, yang biasanya disebut orang Bushman, suku-suku bangsa penduduk asli benua Australia, suku-suku bangsa Negrito di daerah hutan rimba di Kamerun dan Kongo, Afrika Tengah, penduduk kepulauan Andaman, penduduk pegunungan Tengah di Irian Timur, dan juga beberapa suku bangsa penduduk asli benua Amerika Utara. Berbagai hal membuktikan bahwa kepercayaan itu tidak timbul sebagai akibat pengaruh agama Nasrani atau Islam, maka kepercayaan tadi malahan tampak seolah-olah terdesak ke belakang oleh kepercayaan kepada makhluk-makhluk halus, dewa-dewa alam, ruh, hantu, dan sebagainya. A. Lang berkesimpulan bahwa kepercayaan kepada dewa tertinggi adalah suatu kepercayaan yang sudah amat tua, dan mungkin merupakan bentuk religi manusia yang tertua. Adapun pendiriannya itu diumumkannya dalam beberapa karangan, antara lain dalam buku yang berjudul The Making of Religion (1898).
Anggapan A. Lang terurai di atas, tak lama kemudian diolah lebih lanjut oleh W.Schmidt. Tokoh besar dalam kalangan ilmu antropologi ini adalah guru besar pada suatu perguruan tinggi yang pusatnya mula-mula di Austria, kemudian di Swiss, untuk mendidik calon-calon pendeta penyiar agama Khatolik dari organisasi Societas Verbi Divini. Di dalam suatu kedudukan serupa itu maka mudah dapat dimengerti bagaimana anggapan akan adanya kepercayaan kepada dewa-dewa tertinggi di alam jiwa bangsa-bangsa yang masih amat rendah tingkat kebudayaannya, adalah suatu anggapan yang amat cocok dengan dasar-dasar cara berpikir W. Schmidt dan juga dengan filsafatnya sebagai sorang pendeta agama Khatolik. Di dalam hubungan itu beliau percaya bahwa agama itu berasal dari titah Tuhan yang diturunkan kepada makhluk manusia pada masa permulaan ia muncul di muka bumi ini. Karena itulah adanya tanda-tanda dari pada Suatu kepercayaan kepada dewa pencipta, justru pada bangsa-bangsa yang paling rendah tingkat kebudayaanya (artinya yang paling tua menurut Schmidt), memperkuat anggapannya mengenai adanya titah Tuhan asli, atau Uroffenbarung itu. Demikianlah kepercayaan yang asli dan bersih kepada Tuhan, atau kepercayaan Urmonotheismus tadi itu malahan ada pada bangsa-bangsa yang tua yang hidup pada zaman ketika tingkat kebudayaan manusia masih rendah. Di dalam zaman kemudian, ketika makin maju kebudayaan manusia, maka makin kaburlah kepercayaan asli terhadap Tuhan; makin banyak kebutuhan manusia, makin terdesaklah kepercayaan asli itu oleh pemujaan kepada makhluk mahluk halus, ruh, dewa, dan sebagainya. Anggapan Schmidt sebagaimana diuraikan di atas dianut oleh beberapa orang sarjana yang untuk sebagian besar bekerja sebagai penyiar agama Nasrani dari organisasi Societas Verbi Divini. Di samping menjalankan tugas sebagai penyiar agama Nasrani di dalam berbagai daerah di muka bumi, mereka melakukan penelitian-penelitian antropologi budaya berdasarkan atas anggapan anggapan pokok daripada guru mereka. Mereka mencari di dalam kebudayaankebudayaan di daerah mereka masing-masing akan adanya tanda-tanda suatu kepercayaan kepada dewa tertinggi.





Daftar pustaka
Teori-teori Beragama-Akademi Pendidikan Islam.html
Max Weber, teori Aksi dan pilihan rasional Max Weber, (sumatra, 2008) pdf.
Fenomenologi jender di jember, hamdanah, musim kemarau, musim kawin 2002
Brian hebblethwaite, The Problem of Theolog, (Cambridge: Cambridge University Press, 1980),
Abdullah,M.Yatimin . 2004. Studi Islam Kontemporer. Pekn baru ; sinar grafika offset.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar